Tampilkan postingan dengan label Pertanian-Peternakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian-Peternakan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Desember 2009

Peternak Sapi Menjerit

MAGETAN – Kebijakan impor sapi dikeluhkan. Pasalnya, kebijakan itu membuat harga sapi anjlok hingga peternak merugi. ’’Pakannya mahal sekarang, sementara saat dijual harganya tidak bisa tinggi,’’ keluh Jiman, peternak sapi asal Desa Kepolrejo, Kecamatan Magetan, kemarin (21/12).

Jiman menuturkan, sejak memelihara sapi beberapa tahun lalu, baru tahun ini keuntungannya melayang. Bila biasanya satu ekor sapi jenis brahman bisa dijual seharga Rp 14 juta kini hanya tinggal Rp 10,5 juta. ’’Kami dengar penurunan itu karena banyaknya serbuan sapi dari luar negeri,” ungkapnya.

Tak mau terus merugi, Jiman bahkan mengurangi sapi yang dipeliharanya dari 6 menjadi 1 ekor saja. Dia juga tak berani gegabah mengambil bibit untuk digemukkan karena takut nilai investasi memberi pakan tidak seimbang dengan harga yang diperoleh. “Sapi-sapi biasanya dipelihara enam bulan lebih, sementara saat dijual nilainya jatuh,” katanya.

Beberapa peternak lain juga mengeluhkan anjloknya harga pasaran ternak sapi, terutama sapi brahman. Sebelumnya, sapi jenis ini menjadi idoa karena bentuk badannya bagus, mampu dibesarkan dengan maksimal, serta mudah dijual.

Menurut dia, membesarkan seekor sapi biasanya membutuhkan 6-7 bulan dengan cost sekitar Rp 750 ribu perbulan. Angka ini untuk pembelian singkong, rumput polard dan sebagainya. “Belum termasuk tenaga mengirim ke Jakarta. Jadi, ya kami sangat merugi bila hanya ada selisih tiga jutaan saja,” ujar Jiman.

Peternak sapi di hampir seluruh wilayah Magetan mengeluhkan najloknya harga ini. Selama ini sapi termasuk ternak yang digandrungi karena selain bisa laku dengan harga tinggi, juga dapat dimanfaatkan membajak sawah. Selain itu, kotorannya sebagai bahan pupuk. Namun sejak harganya turun banyak peternak berhenti memelihara sapi. Di Desa Kepolrejo saja misalnya, sebelumnya ada 10 warga yang memelihara sapi, sekarang tinggal 2 orang. (ari/isd)

Rabu, 04 November 2009

Petani Mendong Berharap Pembinaan Pemerintah

PONOROGO - Petani mendong Desa Poh Ijo, Kecamatan Sampung, berharap pemerintah ikut cawe-cawe agar mendong lebih memiliki nilai tambah. Setidaknya, adanya penyuluhan atau pembinaan terkait pemanfaatan tanaman tersebut. ‘’Kalau kami bisa menjual dalam bentuk barang jadi, itu akan lebih menguntungkan,’’ ujar Warijo, salah seorang petani, kemarin (3/11).

Kendati harga mendong cenderung turun, Wario mengaku tak beralih membudidayakan tanaman lain. Saat ini harga mendong hanya sekitar seribu hingga dua ribu rupiah per ikat. ‘’Karena saya sudah tidak bisa menanam tanaman lain selain mendong,’’ cetusnya.

Budidaya mendong, kata dia, tingkat kesulitannya tak setinggi padi. ‘’Kalau mendong cukup ditabur, lalu dipupuk, sudah cukup. Berbeda dengan padi yang harus lebih diperhatikan,’’ ujar kakek 9 cucu ini.

Pilihan pada tanaman mendong juga dilontarkan Efendi, petani lainnya. Menurutnya, mendong bisa dipanen tiga kali dalam setahun. Itu dengan hanya sekali tanam, yakni di musim penghujan. Sedangkan padi, meski juga bisa dipanen tiga kali setahun, namun penanamannya sebanyak tiga kali juga. ‘’Padi juga rentan serangan tikus,’’katanya.

Sayangnya, kata Efendi, harga mendong terus menurun dari tahun ke tahun. Padahal, tanaman ini memiliki prospek cerah jika dimanfaatkan dengan baik. Di antaranya diolah menjadi barang kerajinan, sepereti tas, dompet, tempat tisue dan pernak-pernik lainnya. ‘’Selama ini kami hanya menjualnya sebagai bahan baku saja. Itu pun ke daerah lain, bukan di Ponorogo,’’ akunya. (rgl/isd)

Kamis, 22 Oktober 2009

Kembangkan Usaha Penggemukan Sapi

PONOROGO – Sejumlah petani Desa/Kecamatan Sawoo, Ponorogo, selama ini tak hanya mengandalkan penghasilan dari komoditas pertanian terutama jagung, tapi juga beternak sapi.

Kini, para petani bisa tersenyum lega. Ini setelah PT. DuPont Indonesia meluncurkan Pioneer Community Investment Program yang dikelola Pioneer Hi-Bred International. Salah satu program yang dikembangkan di Ponorogo adalah pembangunan unit usaha penggemukan sapi kerjasama dengan Kelompok Tani (Klomtan) Ngemplak Makmur Kecamatan Sawoo.

Pioneer juga memberikan bantuan berupa 4 ekor sapi untuk awal unit usaha, pembangunan kandang sapi berkapasitas 14 ekor, serta disediakan lokasi untuk produksi kompos. Penyerahan bantuan dilakukan pada Senin (19/10) lalu yang dihadiri Kadisperta Ponorogo Nardiyanto.

Menurut Supandi, District Sales Manager PT. DuPont Indonesia Wilayah Indonesia Timur, usaha penggemukan sapi cukup mudah dijalankan petani Ponorogo, khususnya Sawoo. Pasalnya, mereka sudah memiliki lahan untuk pembuatan kandang. Sedangkan bahan untuk pakan sapi bisa menggunakan serasah jagung yang mudah dijumpai di daerah itu.

’’Wilayah Ponorogo sangat potensial dalam pengembangan ternak. Sebab, warga di sini mayoritas bermata pencaharian tani serta beternak. Dalam hal ini, Pioneer hanya pendukung supaya penghasilan warga lebih meningkat ’’ jelas Supandi. (ctr/kmb)
 
Komunikasi Bisnis. Design by Wpthemedesigner. Converted To Blogger Template By Anshul Tested by Blogger Templates.