Tampilkan postingan dengan label Rupa-Rupa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rupa-Rupa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Desember 2009

JTV Madiun Launching Sobo Deso

MADIUN - JTV Madiun punya cara tersendiri untuk ikut menyukseskan program pemerintah dalam menciptakan kawasan yang bersih dan sehat. Bekerjasama dengan Telkom Flexi dan pemkab, JTV Madiun meluncurkan acara ’Sobo Deso’. Launching acara ini digelar di Desa Kincang Wetan, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun bersamaan dengan kegiatan bakti sosial terpadu (BST).

Bupati Madiun H Muhtarom beserta jajaran termasuk Ketua DPRD Kabupaten Madiun hadir dalam launching acara tersebut. Ini dilakukan setelah rangkaian kegiatan BST dilaksanakan berupa kerjabakti pengaspalan jalan dan pasar murah.

Launching ’Sobo Deso’ ini diawali dengan penyerahan tempat sampah secara simbolis yang nantinya akan dibagikan kepada 70 warga Kincang. Selain itu, pemberian sembako kepada perwakilan warga kurang mampu yang diserahkan oleh Suparwiyanto, GM Comercial Telkom Flexi Area V Jatim.

Sebagai puncak acara ditandai dengan pelepasan burung merpati oleh Bupati Madiun H Muhtarom. ’’Kami mengucapkan terima kasih kepada JTV dan masyarakat Kabupaten Madiun pada umumnya karena melalui peran aktifnya menjadikan Flexi semakin dekat dengan masyarakat,’’ ujar Suparwiyanto.

Dia berharap, melalui acara ’Sobo Deso’ Flexi bisa lebih dekat dengan masyarakat dan mendukung terciptanya desa-desa mandiri. Selain itu, Telkom Flexi juga memberikan pilihan cara berkomunikasi yang hemat bagi masyarakat.

Nantinya, lanjut Suparwiyanto, program ’Sobo Deso’ akan berlanjut ke desa-desa lain di wilayah Kabupaten Madiun. ’’Ini sebuah awal yang bagus. Oleh karenanya, akan menjadi luar biasa jika terselenggara seecara kontinyu,’’ katanya.

Warga Kincang Wetan menyambut antusias dimulainya program acara baru ‘Sobo Deso’ tersebut. Mereka berharap program ini nantinya dapat meningkatkan kualitas daerah mereka. (isd/kmb)

Remaja Pria Pilih Aroma Ekstrim


MADIUN – Parfum kini tak bisa dilepaskan dengan tren gaya hidup modern. Terutama, warga kelas menengah di perkotaan. Bahkan, minyak wangi branded buatan luar negeri, sekarang sudah mulai dilirik. Sebut saja Hugo Bos, Atienne Aigner, Jaguar, Calvin Klein, Paris Hilton dan sebagainya.

Namun, bagi warga Madiun, parfum isi ulang yang dijual permilimeter dengan aroma mirip produk branded, menjadi pilihan favorit. Sebab, mereka tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam dibanding membeli parfum impor kemasan utuh yang harganya bisa mencapai ratusan ribu rupiah.

Heny Purwati, SPG salah satu gerai parfum di sebuah mal mengatakan, angka penjualan parfum isi ulang terus meningkat dari waktu ke waktu. Sebulan terakhir ini, kata dia, penjualan miyak wangi di gerainya mengalami peningkatan sekitar tiga puluh persen. ‘’Apalagi, sekarang banyak remaja yang membutuhkan parfum,’’ ungkapnya.

Menurut dia, pembeli parfum di gerainya tidak hanya kaum hawa, melainkan tak sedikit pula kaum adam. Untuk aroma, lanjut Heny, aroma ekstrim kini menjadi pilihan favorit remaja pria.

Prima, salah seorang remaja, mengakui kalau parfum kini sudah menjadi kebutuhan. Dan, dia memilih minyak wangi refill karena harganya terjangkau. ‘’Remaja seperti saya kebanyakan membeli parfum yang dijual permilimeter. Yang penting aromanya, soal harga kan nggak ada yang tahu,’’ ujar Prima, salah seorang remaja. (ctr/isd)

Rabu, 23 Desember 2009

Penjualan Pernik Natal Makin Kencang


MADIUN – Kemajuan teknologi telekomunikasi ternyata tidak membuat tradisi berkirim ucapan lewat kartu luntur. Sebaliknya, kebiasaan tersebut tetap bertahan. Tak terkecuali terkait momen Natal tahun ini.

Itu terbukti dari masih diminatinya kartu ucapan Natal. Meski, tingkat penjualannya tidak setinggi beberapa tahun silam. ‘’Kalau dibilang menurun, ya pasti. Soalnya, memang kalah dengan perkembangan kecanggihan teknologi. Tapi, peminatnya, terutama remaja, masih banyak,’’ tutur Endang, SPG gerai penjualan kartu ucapan di salah satu mal, kemarin (22/12).

Sementara itu, tiga hari menjelang perayaannya, penjualan pernak-pernik Natal semakin kencang. Mulai dari lampu, replika pohon Natal, slinger, hingga boneka Santa Claus. ‘’Di sini aneka kebutuhan natal mulai dipajang sejak dua bulan lalu,’’ ungkapnya.

Untuk harga, bervariasi. Slinger misalnya, dijual dalam kisaran Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu, hiasan pohon Natal Sekitar Rp 11 ribu. Namun, ada pula pernik Natal yang harganya mencapai ratusan ribu. ‘’Beberapa hiasan harganya memang lumayan tinggi, tapi kebanyakan terjangkau,’’ pungkasnya. (ctr/isd)

Selasa, 22 Desember 2009

Penjualan Terompet Masih Sepi

PONOROGO – Tak hanya di Madiun, pedagang terompet tahun baru asal Wonogiri juga banyak menghiasi berbagai sudut kota Ponorogo. Agar bisa menangguk omzet penjualan maksimal, mereka memilih lokasi-lokasi strategis seperti pinggir jalan protokol untuk menjajakan dagangannya.

‘’Kebetuan sekarang bersamaan dengan perayaan gerebeg. Satu minggu lagi nanti pindah ke kota lain,’’ terang Poiman, pedagang asal Bulukerto, Wonogiri, Jawa Tengah, kepada koran ini, kemarin (21/12).

Hanya saja, menurut Poiman, saat ini penjualan terompetnya masih sepi. Pasalnya, selain tahun baru masih dua pekan lagi, warga masih terfokus pada perayaan gerbeg suro yang digelar selama sekitar dua minggu tersebut. ‘’Mereka masih terfokus pada pernik-pernik gerbeg suro. Jadi, peminat terompet masih sepi,’’ katanya.

Saat ini, kata Poiman, dalam satu hari terompetnya paling banter hanya lahu empat biji. Namun, ia optimistis hingga pergantian tahun nanti dagangannya akan ludes terjual. ‘’Tapi kalau dihitung ongkos dan semuanya, untungnya sedikit, lah,’’ akunya.

Poiman mengaku membuat sendiri terompet yang dijualnya. Dalam satu hari dia bisa menghasilkan dua puluh hingga lima puluh batang terompet. ‘’Kalau modelnya mudah sehari bisa dua puluh, tapi kalau sulit paling satu hari hanya satu dua buah saja,’’ ungkapnya.

Terompet yang dijual Poiman bentuknya bervariasi. Mulai dari yang konvensional, saxophone, hingga menyerupai naga. ‘’Harganya tergantung tingkat kesulitan pembuatannya,’’ ujarnya.

Masih sepinya penjualan terompet juga dibenarkan Kashim, pedagang lainnya yang juga asal Wonogiri. Menurutnya, penjualan baru akan ramai pada H-2 dan H-1 menjelang malam pergantian tahun. ''Kalau sudah begitu biasanya kami sampai kuwalahan, dan menolak pembeli karena dagangan sudah habis,'' katanya. (rgl/isd)

Senin, 21 Desember 2009

Musim Hujan, Bisnis Tanaman Hias Menggeliat


PONOROGO – Musim penghujan membawa berkah bagi para pelaku usaha tanaman hias. Omzet mereka mulai menggeliat, seiring banyaknya pembeli. Pasalnya, di musim seperti ini tanaman tidak mudah mati.

Aris Nur Rochim, salah seorang penjual tanaman hias di Jalan Soekarno-Hatta Ponorogo, membenarkan kalau omzet penjualan di kiosnya mengalami peningkatan, meski belum begitu banyak. ‘’Beberapa hari ini memang pembeli bunga bertambah, tapi tidak seramai tahun lalu,’’ ujarnya, kemarin (20/12).

Pria asal Sarangan Magetan ini menambahkan, tren tanaman hias kini mulai bergeser pada flora penghias taman. Di mana cirinya berdaun hijau namun tidak berbunga. Seperti, jenis puring, iris, serta bunga selamat datang. ‘’Sekarang musim tanaman tanpa bunga. Jadi, ya mau tidak mau kita harus mengikuti dan menyediakan selera pembeli,’’ ujarnya.

Sejumlah warga memiliki alasan tersendiri memilih tanaman hias tak berbunga. Di antaranya perawatan tanaman jenis itu cenderung lebih mudah dibanding tanaman berbunga. Selain itu, harganya relatif lebih murah. Yakni, hanya di kisaran Rp 5.000 hingga Rp 20.000.

‘’Tanaman yang tidak berbunga perawatannya lebih mudah. Harganya juga murah. Kan yang penting taman rumah saya bisa kelihatan asri,’’ kata Nur Hidayati, salah seorang penghobi tanaman hias. (ctr/isd)

Sabtu, 05 Desember 2009

Tinggi, Minat Pasar pada Prangko Prisma


MADIUN - Aktualisasi bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya melalui Prangko Identitas Milik Anda (Prisma). ’’Kehadiran prangko Prisma merupakan revolusi dalam hal perfilatelian. Apalagi, kemudahan ini bisa dimanfaatkan semua orang,’’ ujar Arif Choirul Anam, Manager Kantor Pos Madiun, kemarin (4/12).

Dikatakan, bentuk prangko Prisma kini semakin beragam. Terdapat empat seri yang ditawarkan, yakni seri ucapan selamat, ulang tahun, momen kehidupan, dan pertunjukan. ’’Warga Madiun bisa memanfaatkannya untuk mengabadikan momen Natal dan tahun baru yang akan segera tiba,’’ jelasnya.

Membuat prangko jenis ini ternyata tidak membutuhkan waktu lama. Sebab, Kantor pos Madiun telah memiliki alat cetak sendiri. Sehingga, warga atau penggemar filateli tidak perlu ke kota besar. ’’Tinggal datang ke Kantor Pos Madiun, pasti dilayani,’’ kata Arif.

Arif menjelaskan, prangko Prisma bentuknya sepintas mirip prangko umumnya. Namun, jika diamati terdapat perbedaan mencolok, yakni ruang prangko terbagi dalam dua sisi. Satu sisi digunakan menampilkan foto atau logo Sedangkan bagian lain nominal prangko atau tulisan lainnya. ’’Tidak hanya gambar, foto atau logo, pelanggan bisa mengunakan prangko Prisma untuk menempatkan hasil karya atau iklan suatu produk,’’ katanya.

Prangko Prisma, lanjut Arif, diluncurkan di Indonesia 9 Oktober 1999, bertepatan dengan peringatan hari jadi Universal Postal Union atau perhimpunan pos sedunia. Menurutnya, dari tahun ke tahun permintaan jenis prangko ini terus meningkat, seiring makin tingginya kebutuhan untuk aktualisasi atau promosi. Apalagi, harga yang ditawarkan prangko ini tergolong murah. Yakni di kisaran Rp 25 ribu hingga 45 ribu. ’’Harga itu sudah termasuk biaya personalisasi,’’ jelasnya. (aan/ser)

Kamis, 03 Desember 2009

Sekolah Broadcasting Dibanjiri Peminat

MADIUN – Stasiun radio dan televisi lokal di Madiun sejak beberapa tahun terakhir berkembang pesat. Kondisi ini membuat sekolah broadcasting atau kepenyiaran dibanjiri peminat. Magnum Media Center misalnya, sejak berdiri satu setengah tahun lalu sudah meluluskan delapan angkatan.

Fabiola W. Irawan, Manager Magnum Media Center, mengatakan, pendidikan yang ditempuh di sekolah broadcasting yang dikelolanya adalah empat bulan. Rinciannya, dua bulan untuk teori dan dua bulan praktik. Yang menarik, pihaknya sengaja membatasi siswa setiap angkatan maksimal 12 orang. ‘’Tujuannya agar lebih intensif dalam proses pembelajaran,’’ ujar Febi-panggilan akrab Fabiola W. Irawan, kemarin (2/12).

Untuk lebih mendalami materi, lanjut Febi, pihaknya juga bekerjasama dengan beberapa stasiun radio swasta. Setiap siswa yang praktik bisa langsung magang di radio tersebut. ‘’Sehingga kualitas lulusan kami memiliki pengalaman di dunia kepenyiaran yang sebenarnya dan siap kerja,’’ ujarnya.

Menurut Febi, materi yang diajarkan pada siswa Magnum Media Center di antaranya kemampuan penyiaran, senam wajah, penguasaan alat-alat on air dan teori broadcasting lainnya.

Selain menjadi penyiar, kata Febi, lulusan Magnum Media Center juga bisa bekerja di bagian jurnalistik maupun manajemen di stasiun radio. ‘’Karean juga diajarkan tentang jurnalistik maupun manajemen pada perusahaan radio. Peluang lain juga bisa menjadi MC,’’ terang Febi. (dra/isd/ser)

Selasa, 01 Desember 2009

Hias Interior Berunansa Natal

natal
MADIUN- Hari Natal masih beberapa pekan lagi. Namun, suasananya mulai terasa. Terutama di pusat perbelanjaan. Pernak-pernik Natal pun tampak menghiasi setiap lantai mal.

Erick, supervisor sebuah mal di Kota Madiun mengatakan, pihaknya sengaja jauh-jauh hari menghias pusat perbelanjaannya dengan suasana Natal. ‘’Ya biar warga yang membutuhkan pernik Natal bisa segera terakomodasi,’’ ujarnya, kemarin (30/11).

Dikatakan, meski momennya masih beberapa pekan lagi, cukup banyak konsumen yang memborong perlengkapan Natal yang disediakan. Seperti, pohon Natal, boneka Sinterklas, lonceng, dan hiasan lainnya. Pohon Natal, lanjut Erick, ditawarkan dengan harga mulai Rp 50 ribu hingga jutaan rupiah. Sedangkan pernik lainnya mulai Rp 2.000.

Linda, salah seorang pengunjung, mengaku sengaja membeli pernik Natal jauh hari sebelumnya. ‘’Ya mumpung masih lama, biar ada persiapan, nanti kalau membelinya saat mendekati malah kalang kabut,’’ ujar Linda, ditemui saat membeli perlengkapan Natal. (dra/isd)

Rabu, 25 November 2009

Buku Ramalan Akhir Dunia 2012 Diburu


MADIUN- Tidak hanya VCD-nya yang ditunggu-tunggu penggemar film, buku yang mengupas ramalan tentang kehancuran dunia pada 2012 laris di pasaran. Bahkan, tingginya permintaan buku tersebut membuat peminat harus inden terlebih dahulu untuk mendapatkannya.

Bariyanto, pengelola salah satu gerai buku mengungkapkan, buku karya penulis gabungan-di antaranya John Major Jenkins dan Gregg Braden- tersebut kemunculannya mendahului film 2012. ‘’Namun baru populer setelah versi filmnya banyak diberitakan di media,’’ ujarnya.

Menurut dia, sejak di-launching, gerainya menyetok sebanyak 100 buku. Ternyata, hanya dalam jangka waktu kurang dari tiga hari, buku berjudul The Mistery of 2012 tersebut sudah ludes terjual.

Sementara, pihak distributor dalam satu bulan hanya melakukan dua kali pengiriman. Sehingga, terpaksa diberlakukan system inden. ‘’Ya bagi yang ingin memiliki buku tersebut harus memesan dulu, nanti sekitar 1-2 minggu bukunya datang lagi,’’ ungkap Bariyanto.

Diuraikan, buku The Mistery of 2012 berisi ramalan mengacu pada alender suku Maya yang hitungannya berakhir pada 2012. Selain itu, disertai bukti ilmiah berkaitan dengan perubahan dalam medan magnet bumi dan bagaimana hal itu akan mempengaruhi seluruh kehidupan.

Selain itu, lanjut Bariyanto, terdapat prediksi Jean Houston tentang kedatangan jump time (lompatan waktu) serta menampilkan ulasan ahli ternama tentang pertanyaan seputar 2012.

Tini, salah seorang penggemar buku, mengaku penasaran ingin mengetahui isi dari buku yang ramai dibicarakan orang tersebut. ‘’Bisa jadi, setelah membaca bukunya dan menonton filmnya kita jadi tambah rajin beribadah dan selalu berbuat baik karena ingat akan hari kiamat,’’ ujarnya. (dra/isd)

Pegadaian Bukukan Pengucuran Kredit Rp 85 M

MADIUN – Pengucuran kredit Pegadaian, hingga bulan Oktober 2009, telah menembus angka Rp 85 miliar. pegadaianJumlah tersebut sekitar 80 persen dari total target tahunan sebesar Rp 117 miliar. ‘’Hingga akhir tahun kita optimistis target akan terealisasi, bahkan kemungkinan bisa lebih,’’ ujar Sri Yuliastuti, Pemimpin Cabang Pegadaian Madiun, kemarin (24/11).

Diungkapkan, dana yang tersalurkan itu, Rp 5 miliar di antaranya untuk usaha mikro. Sedangkan target yang dipatok tahun ini sebesar Rp 5,5 miliar. Beberapa usaha mikro yang mendapatkan kucuran kredit, kata Sri Yuliastuti, terutama kalangan pedagang, pemilik toko, penjahit dan sebagainya.

Menurut dia, dari beberapa produk yang ditawarkan Pegadaian, Kredit Cepat Aman (KCA) yang paling diminati. Sedangkan untuk usaha mikro kebanyakan melalui produk Kredit Jaminan Pidosia (Kreasi). ‘’Prosesnya cepat dan bunganya relatif kecil disbanding lainnya,’’ terang Sri Yuliastuti.

Ia mencontohkan KCA golongan A, bunganya hanya 0,7 persen, golongan B 1, 2 persen, golongan C 1,3 persen dan golongan D 1 persen untuk 15 hari. Sedangkran produk Kreasi bunganya untuk golongan A adalah 0,9 persen perbulan.

Sri Yuliastuti menambahkan, Pegadaian juga getol melakukan penyuluhan serta sosialisasi ke masyarakat. Selain itu, melaksanakan pogram corporate social responsibility (CSR).

‘’Yakni dengan menyisakan sebagian laba yang diperoleh perusahan untuk program sosial. Yang sudah kami lakukan adalah memberikan bantuan dana kepada dunia pendidikan. Di antaranya bantuan senilai Rp 100 juta untuk renovasi gedung SDN Betek, Kecamatan Madiun,’’ ungkapnya.

Peresmian gedung sekolah tersebut, lanjutnya, dilakukan kemarin yang dihadiri Direktur Dana Pensiun Perum Pegadaian Jakarta Sanjoko serta Pemimpin Wilayah Utama 13 Perum Pegadaian Surabaya Supatmoko. (dra/isd)

Selasa, 24 November 2009

Tiket KA Bisnis dan Eksekutif Ludes

MADIUN – Empat hari menjelang long weekend terkait momen Idul Adha, penjualan tiket kereta api di Stasiun Madiun mulai ramai. Bahkan, tiket sejumlah KA kelas bisnis dan eksekutif untuk keberangkatan 26 dan 29 November 2009 sudah ludes terjual.
kereta api
Calon penumpang mayoritas adalah warga yang memanfaatkan libur Idul Adha untuk mudik atau berlibur ke luar kota. ‘’Untuk kelas bisnis dan eksekutif, lonjakannya mencapai dua kali lipat dibanding hari biasa,’’ ujar Kahumas PT. KA Madiun Harijadi, kemarin (23/11).

Harijadi memprediksi puncak arus mudik terjadi pada 26 November. Sedangkan puncak arus balik diperkirakan pada 29 November. ‘’Banyak warga yang hendak memanfaatkan libur Idul Adha untuk mudik atau bepergian,’’ tuturnya..

Untuk KA kelas ekonomi, lanjut Harijadi, tidak ada kenaikan harga tiket. Sedangkan KA bisnis dan eksekutif, mulai tanggal 26 hingga 29 November, dikenakan tarif batas atas. KA Gajayana misalnya, naik dari Rp 270 ribu menjadi Rp 330 ribu.

Sedangkan KA Bima naik dari Rp 250 ribu menjadi Rp 310 ribu. KA Bangunkarta kelas binis juga naik dari Rp 130 ribu menjadi Rp 160 ribu. Sedangkan yang kelas eksekutif dari Rp 180 ribu menjadi Rp 210 ribu.

Harijadi menambahkan, meski diprediksi terjadi luapan penumpang yang signifikan, pihaknya tidak akan melakukan penambahan gerbong. Menurutnya, jumlah gerbong yang ada saat ini sudah mencukupi untuk kebutuhan arus mudik dan balik Idul Adha. ‘’Walaupun ada peningkatan, tidak seramai hari raya Idul Fitri. Gerbong yang ada sudah mencukupi,’’ terang Harijadi.

Hanya saja, pihaknya telah mempersiapkan pelayanan ekstra. Di antaranya, menambah personel pengawasan. Untuk keamanan, petugas juga ditambah. Jika semula hanya beberapa orang dari pengaman khusus kereta api (Pamsuska), kini ditambah beberapa personel dari Polri.

Peningkatan pelayanan pun, kata dia, juga dilakukan. Seperti, salonisasi berupa perawatan, peningkatan kebersihan di dalam kereta, dan sebagainya. ‘’Intinya fokus kita tetap pada kenyaman dan keselamatan,’’ tambah Harijadi.

Sementara itu, mengantisipasi membeludaknya penumpang pada libur Idul Adha, sejumlah pelaku usaha jasa travel menyiapkan armada tambahan. Tidak hanya itu, frekuensi perjalanan pun ditingkatkan.

Handayani, karyawan salah satu jasa travel di Kota Madiun mengatakan, pihaknya telah menyiapkan dua armada cadangan untuk mengantisipasi lonjakan penumpang. ‘’Sebelumnya sudah ada empat kendaraan, sekarang jadi enam yang siap kami operasikan,’’ ujarnya.

Ia memperkirakan lonjakan penumpang menjelang Idul Adha kali ini mencapai dua kali lipat dibanding hari biasa. Terutama penumpang dari Surabaya dan Malang untuk tujuan Madiun.

Kemarin (23/11), armada yang beroperasi umumnya tak menyisakan kursi kosong. Padahal biasanya, kata Handayani, dari 10 kursi yang tersedia, paling banter hanya terisi 6 penumpang.

Sejumlah travel lainnya memilih menambah frekwensi perjalanan untuk setiap daerah tujuan. Seperti diungkapkan Budi, pengelola jasa travel lainnya. Ia mencontohkan tujuan Jogjakarta, jika sebelumnya dalam sehari hanya satu kali pemberangkatan, kini ditingkatkan menjadi dua kali.

Begitu pula untuk tujuan Malang dan Surabaya atau sebaliknya. Kendati demikian, kata dia, pihaknya juga telah menyiapakan armada cadangan. ‘’Semula ada sembilan kendaraan dan akan ditambah menjadi dua belas,’’ ungkapnya. (dra/isd)

Senin, 23 November 2009

Omzet Merosot hingga 40 Persen

MADIUN – Tingginya harga gula saat ini dikeluhkan sejumlah pengusaha roti. Tak lain karena mahalnya harga komoditas tersebut menyebabkan biaya produksi membengkak. Apalagi, kondisi pasar kini sedang lesu.
roti
Novia, salah satu pelaku usaha roti dan kue mengaku, sejak harga gula melambung tinggi, biaya produksi melonak hingga dua kali lipat. Di sisi lain, untuk mempertahankan pasar, ia tidak menaikan harga kue dan roti buatannya.

Akibatnya, kata dia, omzet penjualan merosot hingga 40 persen dibanding sebelum harga gula melonjak. Ia juga mengaku tak berani mengurangi komposisi kue dan roti buatannya untuk menekan ongkos produksi. ‘’Nanti rasanya lain dan pelanggan lari,’’ ujarnya.

Sejak pemesan sepi, Novia juga memproduksi roti bungkusan untuk didistribusikan ke toko dan warung-warung untuk mempertahankan usahanya. Dengan memproduksi roti kemasan, setiap hari ia masih bisa menikmati keutungan, meski relatif kecil. Setidaknya usahanya tetap berjalan seiring dengan lesunya permintaan kue pesanan.

Maria, pelaku usaha roti lainnya, juga mengeluhkan tingginya biaya produksi akibat mahalnya harga gula. Solusinya, ia memilih mengurangi porsi gula dan menambahkan pemanis buatan. ‘’Tetap pakai gula, cuma porsinya dikurangi,’’ ujarnya.

Dikatakan, dalam kondisi normal, ia menghabiskan gula 20-25 kilogram perhari. Namun setelah ditambahkan pemanis, buatan kini hanya dibutuhkan 10-15 kilogram gula. ‘’Bayangkan kalau pas pesanan banyak, jika nggak dicapur pemanis buatan kita pasti tekor,’’ ungkapnya.

Tidak hanya gula, ia juga terpaksa mengurangi porsi bahan lain seperti margarine, telur, dan bahan dasar pembuat kue lainnya. Menurutnya, lesu permintaan kue saat ini tidak memungkinkan untuk menurunkan harga.

Strategi lainnya, Maria kini lebih banyak memproduksi kue kering. Porsi kemasannya pun sedikit dikurangi. ‘’Kue kering tidak banyak membutuhkan gula, lagipula awet, kalau habis baru kita buat lagi.’’ (dra/isd)

Kamis, 19 November 2009

VCD Film Kehancuran Bumi Diburu

film 2012
MADIUN – Demam film 2012 ternyata merambah hingga Madiun. Hanya saja, penggemar movie harus menahan kecewa lantaran VCD film tersebut belum beredar di Madiun.

Kendati demikian, tetap membawa berkah bagi pelaku usaha rental VCD. Pasalnya, film sejenis yang menceritakan kehancuran bumi diburu. Seperti, Knowing, Krateatoa, The Day After Tomorrow dan sebagainya. ‘’Banyak yang nyari,’’ ujar Teddy, pengelola salah satu rental VCD di Kota Madiun, kemarin (18/11).

Menurut Teddy, dalam satu hari, sedikitnya 30 konsumen datang untuk menanyakan film 2012. Namun, karena filmnya belum beredar, mereka beralih meminjam film sejenis. Tak tanggung-tanggung hingga 15 keping stok yang disediakan setiap judul, dalam satu hari selalu ludes dipinjam. ’’Untuk film yang booming kita hanya dibatasi maksimal 15 keping (dari distributor, Red),’’ ungkapnya.

Dikatakan, tingginya permintaan 2012 tak lepas dari penasaran masyarakat pada film arahan sutradara Roland Emmerich dan dibintangi John Cusack serta Amanda Peet itu. Apalagi, belakangan muncul pro dan kontra.

Lia, karyawan salah satu gerai penjualan VCD, mengaku gerainya kebanjiran order film 2012. Jumlah yang inden, kata dia, mencapai ratusan. Dia menambahkan, film dengan tema sejenis juga banyak diburu. ’’Selain 2012, yang paling laris Knowing. Film ini sama mencekamnya dengan 2012, alur ceritanya juga hampir sama,’’ terangnya. (dra/isd)

Rabu, 18 November 2009

Penjualan Genset Melonjak

MADIUN – Ternyata tak semuanya dirugikan dengan adanya pemadaman listrik secara bergilir. Pelaku usaha mesin disel justru menuai berkah. Omzet penjualan genset melonjak drastis. Kondisi itu terjadi lantaran tingginya permintaan genset untuk antisipasi pemadaman.

Bintarto, pengelola salah satu toko mesin disel di Kota Madiun mengatakan, permintaan genset menunjukkan peningkatan signifikan sejak sepekan terakhir. Atau, setelah marak terjadi pemadaman listrik di berbagai daerah. ‘’Peningkatan penjualan sangat tinggi,’’ ujarnya, kemarin (17/11).

Ia mengungkapkan, kini setiap hari sedikitnya 1-2 unit genset terjual dari tokonya. Padahal, sebelumnya jumlah itu diraih dalam waktu satu bulan. Sedangkan pembelinya, lanjut Bintarto, didominasi pengusaha yang mengendalkan listrik untuk operasional usahanya. Seperti, warrnet, salon, rumah makan dan petenakan ayam.

Tak hanya dari wilayah Madiun, kata dia, konsumen juga berasal dari luar kota baik seperti Magetan, Ponorogo dan Ngawi. Mengantisipasi lonjakan permintaan, ia mengaku sudah memesan puluhan genset dari distributor untuk stok. ‘’Sayangnya, kiriman dari distributor kadang telat,’’ katanya.

Berbagai jenis genset ditawarkan. Dari yang berdaya 600 watt hingga 5.000 watt, dengan harga paling murah sekitar R 750 ribu sampai Rp. 3 juta perunit. Namun yang paling diminati konsumen, menurut Bintarto, adalah genset berdaya 1.000 watt. Selain cukup untuk menjalankan usaha, harganya cukup terjangkau.

Pemadaman listrik bergilir juga membawa berkah bagi pengusaha perlengkapan handphone (HP). Karena, penjualan desktop charger tenaga baterai laris manis. ‘’Padahal, sebelumnya kurang laku,’’ ujar Susi, salah seorang pengusaha perlengkapan HP.

Menurut dia, desktop charger ini cukup praktis dan sangat membantu dalam situasi darurat seperti saat listrik padam. ‘’Karena, tenaganya baterai. Jadi, meski listrik mati, tetap bisa nge-charge HP,’’ katanya.

Kini, kata Susi, dalam sehari tidak kurang 2-3 unit desktop charger terjual. Sedangkan harganya antara Rp 25 ribu hingga Rp 35 ribu perunit. (dra/isd)

Kacamata Frame Tebal Ngetren Lagi

MADIUN - Kacamata ternyata juga tak meninggalkan unsur mode. Tak sekadar untuk membantu penglihatan, kini banyak produk kacamata yang fashionable. Sehingga, bisa untuk bergaya dan tampil modis dalam berbagai acara.kacamata trendy

Yani, pemilik gerai optik di Jalan HA. Salim mengatakan, tren kacamata saat ini kembali ke era 1980-an. Yakni dengan model frame (bingkai) tebal dan kaki-kaki berukuran besar. ‘’Bentuknya yang dinamis dan tebal sangat dominan pada kacamata ini,’’ ujar Yani.

Menurutnya, kacamata jenis ini menggunakan bahan full plastik pada keseluruhan bingkai dan kaki-kakinya. Sehingga terasa ringan jika dipakai. Selain itu, jenis bahan ini lebih awet karena tahan banting dan tidak mudah patah meski terjatuh. ‘’Juga anti gores,’’ katanya.

Dengan ciri khas bingkai serta kaki tebal, lanjut Yani, kacamata ini akan membuat karakter wajah si pemakai lebih menonjol. Bingkainya sendiri modelnya bermacam-macam sehingga bisa dipilih sesuai dengan bentuk wajah. ‘’Asal jangan salah pilih model, kacamata ini cocok untuk harian,’’ ungkapnya.

Menurut Yani, ada beberapa pilihan warna, namun permintaan tertinggi pada kacamata dengan warna-warna cerah seperti putih, pink, merah, kuning, dan sebagainya. Kacamata, lanjut dia, akan terlihat matching jika dipadu busana warna senada.

Tidak mengherankan jika kacamata jenis itu banyak disukai remaja. Bahkan, tak jarang yang memiliki koleksi lebih dari satu agar mudah dipadukan dengan baju yang dikenakan. ‘’Kacanya bisa dilepas sehingga bisa dipakaikan pada bingkai lainnya,’’ tambah Yani. (dra/isd)

Selasa, 17 November 2009

Harga Kambing Tembus Rp 1,5 Juta

MADIUN – Sekitar sepuluh hari menjelang Idul Adha, penjualan hewan kurban mulai menunjukkan peningkatan. Seperti diungkapkan Basri, pedagang kambing yang membuka lapak dadakan di Jl Panjaitan, Kota Madiun.
kambing
Menurut pria parobaya yang mengaku berjualan kambing sejak tahun 1998 tersebut, penjualan mulai terlihat sejak memasuki bulan November. ‘’Mulai ramai sejak tanggal 5 November,’’ ujarnya.

Sejak saat itu hingga kemarin (16/11), kata Basri, sudah 16 ekor kambing dagangannya terjual. Sehingga, jika dirata rata, ia mampu menjual 1-2 ekor kambing perhari.

Untuk mengantisipasi tingginya permintaan pasar, terutama mendekati Idul Adha, Basri sudah menyiapkan kambing hingga 60 ekor. Ia optimistis, sebelum hari raya semua kambingnya sudah ludes terjual. Jika semua kambingnya terjual, ia mengaku bakal meraup keuntungan sekitar Rp 8 juta – Rp 9 juta selama dua pekan. ‘’Itu sudah termasuk biaya perawatan,’’ terangnya.

Meski potensi pendapatannya cukup tinggi, tidak sedikit modal yang harus dikeluarkan Basri untuk menyediakan stok puluhan ekor kambing. Yakni, sekitar Rp 76 juta. Uang tersebut, kata dia, dari perputaran keuntungan selama bertahun-tahun menekuni usaha jual beli kambing.

Sementara itu, Amin, penjual kambing lainnya, mengatakan, harga kambing saat ini naik hingga dua kali lipat dibanding hari biasa. Untuk kambing kurban ia menjual dengan harga di kisaran Rp 1 juta – Rp 1,5 juta perekor. Padahal, pada hari biasa hanya sekitar Rp. 600 ribu-Rp 700 ribu.

Menurutnya, lonjakan harga tersebut tak dapat dihindari, karena harga di tempat kulakan atau peternak sudah tinggi. ‘’Biasa, kalau menjelang hari raya Idul Adha harga kambing dari peternak juga tinggi. Mungkin karena banyak permintaan sehingga harganya dinaikan,’’ ungkapnya. (dra/isd)

Sabtu, 14 November 2009

Volume Pengiriman TKI Turun Drastis

MADIUN – Volume pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang berasal dari Kabupaten Madiun turun drastis. Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) setempat, hingga bulan Oktober 2009, TKI yang diberangkatkan ke berbagai negara tujuan seperti Malaysia, Singapura, Taiwan dan Arab Saudi hanya sekitar 650. Padahal tahun 2008, mencapai 2.002.

Kasi Penempatan Tenaga Kerja Bidang Pentalantas Disnakertrans Heri Sucahyono mengatakan, penurunan itu terjadi karena adanya surat edaran Dirjen Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja (Binapenta).

Dalam surat edaran tersebut tertulis agar menghentikan sementara pengiriman TKI sebagai tata laksana rumah tangga di Malaysia. Hal ini terkait evaluasi perlindungan dan keselamatan kerja TKI yang terus dilakukan pemerintah pusat.

Menurut Heri, selama bekerja di Malaysia, banyak TKI yang kehilangan haknya. ’’Hingga saat ini, surat edaran tersebut belum dicabut dan masih berlaku. Pengiriman TKI di sektor informal juga mengalami imbasnya. Maklum, hampir 60 persen TKI kita bekerja di sektor itu,’’ jelasnya, kemarin (13/11).

Turunnya pengiriman TKI ke luar negeri, lanjut Heri, juga dipicu krisis ekonomi global yang berimbas pada banyaknya industri yang gulung tikar. Sehingga, tak sedikit pengusaha yang terpaksa memutuskan kontrak kerja ataupun tidak bisa menambah tenaga kerja dari Indonesia. ’’Meski demikian, hingga saat ini belum terjadi pemulangan TKI. Tapi, tahun lalu ada sekitar 60 TKI yang dipulangkan dari negara tujuan,’’ paparnya.

Bagaimana dengan TKI yang nekat berangkat ke Malaysia tanpa dokumen resmi? Heri mengatakan, pihaknya terus berupaya menekan angka TKI ilegal. Salah satunya dengan mengawasi keberadaan 35 Unit Pelayanan dan Penempatan Penyuluhan Tenaga Kerja (UP3TKI). Menurutnya, jika ada UP3TKI yang bermain-main, pihaknya bisa melakukan pencabutan izin dan menutupnya.

Selain itu, pihaknya juga telah menyosialisasikan pada calon TKI agar berangkat dengan jalur resmi. ’’Kami memberi tahu, keberangkatan secara ilegal sangat merugikan TKI sendiri. Sebab, haknya sebagai tenaga kerja gugur dan kesejahterannya tidak terlindungi,’’ jelasnya.

Disnaekrtrans, kata Heri, juga telah melakukan berbagai upaya untuk memberdayakan warga eks TKI. Yakni, dengan memberikan berbagai keterampilan dan modal usaha. Dengan cara ini diharapkan warga mengurungkan niatnya untuk kembali berkerja di luar negeri dan memilih membuka usaha di daerahnya. ’’Rencananya tanggal 15 November, kami akan mengirim sepuluh eks TKI untuk dikirim pelatihan wirausaha di Surabaya,’’ pungkasnya.


Belum Berimbas pada Penurunan Remitance TURUNNYA volume pengiriman TKI ternyata belum berimbas pada jumlah remitance (kiriman uang) dari luar negeri. western unionData Kantor Pos Madiun menyebutkan, jumlah kiriman pada bulan Oktober 2009 mencapai Rp 8,8 miliar. Sedangkan September sebesar Rp 13,1 miliar.

‘’Jumlah kiriman uang memang mengalami penurunan, tapi bukan disebabkan adanya surat edaran Dirjen Binapenta. Melainkan lebih karena berakhirnya Idul Fitri,’’ ujar Agus Wahyu Hidayat, Manajer Pelayanan Kantor Pos Madiun, kemarin (13/11).

Menurut Agus, TKI yang bekerja di luar negeri, selama ini memiliki kebisaan mengirimkan banyak uang saat Idul Fitri. Dan, kiriman kembali normal setelah lebaran. ‘’Malah kami perkirakan kiriman bulan November akan mengalami kenaikan. Sebab, sampai tanggal 12 November saja jumlah kiriman sudah mencapai Rp 5 miliar lebih,’’ jelasnya.

Agus memprediksi, penurunan kiriman uang dengan nominal signifikan baru terjadi tahun depan. Saat itu, sejumlah TKI harus pulang ke tanah air karena kontraknya telah habis. Mereka tidak bisa memperpanjang kontrak kerjanya karena adanya surat edaran Dirjen Binapenta. ‘’Itu baru kemungkinan, bisa saja berubah jika Dirjen Binapenta mencabut surat edarannya dan memperbolehkan pengiriman TKI kembali,’’ katanya.

Masih tingginya kiriman uang TKI, lanjut dia, juga disebabkan kokohnya nilai tukar dolar. Sekadar diketahui, pengiriman uang TKI saat ini umumnya melalui Western Union dalam bentuk dolar. Baru saat sampai di Indonesia, uang dikurskan menjadi rupiah. ’’Sejauh ini kita tahu, dolar selalu fluktuatif. Kondisi ini juga berpengaruh dengan jumlah kiriman yang masuk di Kabupaten Madiun,’’ terangnya.

Agus menambahkan, 60 persen dari total kiriman berasal dari TKI yang berdomisili di Dolopo, Dagangan, Kebonsari dan Uteran. ‘’Keempat daerah di Kabupaten Madiun itu dikenal sebagai basis TKI. Jadi, tidak salah jika kiriman uang setiap bulannya banyak,’’ katanya. (aan/isd)

Kamis, 12 November 2009

Permintaan Peralatan Fitnes Tinggi

MADIUN - Kesadaraan warga menerapkan pola hidup sehat tampaknya semakin meningkat. Paling tidak, itu terlihat dari tren kenaikan penjualan peralatan olahraga dan fitnes. fitness‘’Dari waktu ke waktu kecenderungannya meningkat,’’ kata Andi, salah satu pelaku usaha peralatan fitnes.

Andi mencontohkan penjualan peralatan olahraga dan fitness Oktober lalu yang mencapai 25 unit. Padahal, bulan September hanya 22 unit. Sedangkan peralatan yang diminati mulai dari threadmill, sepeda statis, hingga elliptical. ‘’Ini (elliptical , Red) merupakan perpaduan alat untuk lari dengan sepeda serta free style untuk olah gerak semua bagian tubuh,’’ paparnya..

Menurut dia, konsumen peralatan olahraga dan fitness di gerainya selam ini didominasi kalangan menengah ke atas. Mulai dari pengusaha, eksekutif muda, hingga istri pejabat. ‘’’Pembeli sekitar 60 persen wanita,’’ ungkap Andi.

Diakuinya, tren peningkatan penjualan alat olahraga dan fitness tak lepas dari makin tingginya kesadaran warga akan pentingnya hidup sehat. Padatnya aktivitas kerja, tambah Andi, juga menjadi pemicu makin diminatinya peralatan fitnes.
’’Karena kesibukan, mereka tidak sempat datang ke fitness atau gym center, sehingga memilih beli alat yang praktis untuk olahraga di rumah atau kantor tempatnya bekerja. (dra/isd)

Rabu, 11 November 2009

CPNS 2009, Kantor Pos Raup Rp 200 Juta

MADIUN – Momen rekrutmen CPNS benar-benar membawa berkah bagi kantor pos. Maklum saja, penjualan prangko dan kelengkapan surat menyurat melonjak tajam, seiring jumlah pelamar yang membeludak.
kantor pos
Arif Choirul Anam, Manajer Humas Kantor Pos Madiun, mengatakan, hingga selesai masa pendaftaran, kantor pos meraup omzet hingga Rp 200 juta lebih. Angka itu termasuk pendapatan dari kantor-kantor pos cabang yang tersebar di wilayah Madiun.

Sekadar diketahui, biaya pengiriman berkas lamaran CPNS tahun ini ditetapkan sebesar Rp 7.500. Sedangkan prangko untuk surat balasan (pemberitahuan lolos tidaknya seleksi administrasi) senilai Rp 5.000.

Menurut dia, besarnya omzet kantor pos itu tak lepas dari tingginya jumlah pelamar. Dibanding tahun lalu, kata Arif, pelamar CPNS mengalami kenaikan sekitar 15 persen. ‘’Tahun ini ada sekitar 19 ribu pelamar, sedangkan tahun sebelumnya hanya 17 ribuan,’’ ungkapnya, kemarin (10/11).

Diakuinya, pada awal-awal pendaftaran pihaknya sempat memprediksi pelamar tahun ini tak sebanyak tahun sebelumnya. Ini lantaran rekrutmen CPNS 2009 tidak ada formasi setingkat SLTA.

Ternyata, dugaan tersebut meleset. Peminat justru melonjak, dengan rata-rata berkas lamaran masuk sekitar 800 per hari. Bahkan, pada hari terakhir pendaftaran, yakni Senin (9/11), pelamar menembus angka 1.000 lebih. ‘’Padahal, hari itu kantor pos hanya buka sampai jam sepuluh pagi,’’ tuturnya.

Membeludaknya pelamar CPNS tahun ini ditengarai lantaran cukup banyak pelamar dari luar seperti Solo, Sragen dan Jogjakarta yang mengadu nasib di Madiun.

Arif menambahkan, pelamar terbanyak adalah untuk formasi CPNSD Kabupaten Madiun, yakni sekitar 65 persen. Disusul Kota Madiun 30 persen, dan sisanya . terbagi hampir merata sekitar 5 persen untuk Ngawi, Ponorogo, Magetan dan Pacitan. (dra/isd)

Selasa, 10 November 2009

Stylus Pen Marak di Pasaran

pulpen stylus
MADIUN – Maraknya ponsel berbasis PDA menginspirasi produsen bolpoin ternama menciptakan alat tulis berteknologi touch screen atau dikenal dengan sebutan stylus pen.

Wulan, karyawan gerai peralatan tulis di salah satu mal, mengungkapkan, kelebihan dari stylus pen adalah pada kemampuannya. Yakni, selain untuk menulis, juga bisa dipakai sebagai stik pada ponsel atau piranti yang menggunakan fasilitas layar sentuh. ‘’Bolpoin ini memang merupakan teknologi terbaru,’’ ujarnya.

Sayangnya, peminat bolpoin canggih ini harus merogoh kocek cukup dalam untuk memilikinya. Pasalnya, produk tersebut umumnya keluaran produsen kelas dunia seperti Parker, Mount Blanc, Senator, Zebra dan sebagainya.

Tidak mengherankan jika harganya terpaut cuku jauh dibadning bolpoin buatan lokal. Merek Parker atau Mount Blanc misalny, berkisar ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Karena itu, kata Wulan, pembelinya didominasi kalangan pengusaha, pejabat dan eksekutif muda.

Wulan menjelaskan, karena harganya yang relatif mahal, stylus pen biasanya hanya untuk koleksi atau hadiah kepada relasi di kalangan middle up. ‘’Permintaan paling banyak saat ada pergantian atau mutasi pejabat, karena biasanya diberikan sebagai hadiah untuk kenang-kenangan,’’ ungkap Wulan.

Bolpoin kelas premium tersebut umumnya berbahan stainless steel sehingga tidak mudah berkarat. Dengan warna perak serta keemasan menjadikan bolpoin ini tampak elegan dan mewah.

Bahkan, beberapa tipe diberi sepuhan emas. Baik pada ujung-ujungnya maupun pada tangkainnya. Kesan eksklusif kental sekali pada bolpoin ini. ‘’Yang ada sepuhan emasnya harganya sekitar Rp 2 juta-Rp 3 juta,’’ tambah Wulan. (dra/isd)
 
Komunikasi Bisnis. Design by Wpthemedesigner. Converted To Blogger Template By Anshul Tested by Blogger Templates.