Tampilkan postingan dengan label Fashion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fashion. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Desember 2009

Diprediksi Tak Banyak Alami Perubahan

PONOROGO – Tahun 2009 tak lama lagi berlalu. Trend busana tahun 2010 pun mulai menjadi bahan perbincangan. Sejumlah pelaku bisnis fashion memprediksi, tren busana tahun depan tak jauh beda dengan 2009. Untuk busana remaja wanita masih didominasi jenis casual.

Sedangkan dari segi warna, pemilihan warna cerah dengan motif bunga dan satwa lucu diprediksi belum akan bergeser. Selain itu, baju printing limited edition diperkirakan masih menjadi incaran remaja wanita. ‘’Tren busana tahun 2010 kelihatannya tak berbeda jauh dengan 2009,’’ kata Sigit Yunantiyo, owner salah butik di Jlo. Gatutkoco Ponorogo, kemarin (18/12).

Berbeda dengan jenis bawahan, menurut Sigit, akan mengalami perubahan tren. Jika di tahun 2009 yang menjadi tren adalah celana jins ketat serta celana rok warna cerah namun polos, tahun depan diprediksi bergeser ke yang bermotif serta jenis dess dan ziper. ‘’Kalau celana cewek memang sedikit ada perubahan. Yakni, rok berwarna cerah dan bermotif,’’ paparnya.

Tren busana remaja pria tahun 2010, juga diprediksi masih relatif sama dengan tren tahun ini. Yakni, baju hem ketat serta kaos warna hitam dengan sedikit motif. ‘’Di distro kita paling banyak diminati kaos warna hitam sedikit motif. Namun, tak sedikit juga remaja yang minta kaos hitam dengan desain mereka sendiri,’’ kata Ahmad Fauzi, bos salah satu distro di Jl. Pramuka.

Sedangkan celana remaja pria, kata Fauzi, jins panjang ketat warna gelap dan minimalis diprediksi menjadi tren tahun depan. Berbeda dengan tahun ini di mana celana berukuran besar dan bentuk kantongnya variatif banyak diminati. ‘’Remaja saat ini lebih suka berpenampilan ala rock and roll. Di mana style mereka kini cenderung lebih sederhana dan natural,’’ pungkasnya. (ctr/isd)

Jumat, 27 November 2009

Jilbab Segi Empat Paris Masih Ngetren

MADIUN - Tren jibab segi empat dari bahan katun paris diprediksi bakal bertahan hingga akhir tahun. jilbab ngetrendMeski harganya relatif lebih mahal dibanding jenis kerudung lain, masih banyak kaum hawa yang memburu jilbab ngepop ini. ’’Jilbab paris segi empat memang lagi tren,’’ujar Ana, pengelola salah satu gerai jilbab di Kota Madiun, kemarin (26/11).

Menurut dia, tidak hanya hanya kalangan dewasa, para remaja pun banyak yang gandrung dengan jilbab segi empat berbahan katun paris. Alasannya, lembut saat dipakai, ringan dan tidak gerah. Apalagi, corak yang ditawarkan cukup beragam. Mulai dari yang polos hingga berhiaskan bordir dan manik-manik.
’’Kalau yang polos biasanya yang menyukai remaja. Soalnya, bisa untuk pergi ke sekolah maupun acara santai. Sedangkan yang bercorak biasanya disukai ibu-ibu,’’ ujar Ana kepada koran ini.

Jilbab segi empat bahan katun paris, lanjut Ana, juga digemari lantaran modelnya bisa dimodifikasi sesuai selera. Namun, ia menyarankan, agar terlihat lebih gaul dan matching perlu disesuaikan dengan colour harmoninya. Sedangkan warna jilbab yang dikenakan senada dengan warna busana yang dipakai. Ini untuk menonjolkan karakter dinamis pemakainya.

Sedangkan untuk warna, menurut Ana, saat ini yang paling banyak dicari adalah putih. ’’Kemungkinan karena mau hari raya Idul Adha sehingga warna putih yang paling laris,’’ tambah Ana.
Belakangan ini, tren jilbab kerap berganti. Tak jarang, muncul sebutan khusus di pasaran yang terinspirasi kerudung yang dikenakan artis tertentu. Misalnya, ’jilbab Ayat-ayat Cinta’, ’jilbab Manohara’ dan sebagainya.

‘Jilbab Manohara’ memiliki cirri khas pada hiasan tepi yang tampak mewah. Yakni, berupa kepingan-kepingan logam berbentuk bulat, segiempat dan beberapa bentuk lain yang dirangkai berjajar di tepi jilbab. Sehingga, terkesan elegan dan mewah. (dra/isd)

Sabtu, 21 November 2009

Penjualan Baju Muslim Naik 30 Persen

MADIUN – Sepekan menjelang Idul Adha, penjualan baju muslim dan peralatan salat menunjukkan peningkatan. ‘’Baik busana dan alat salat bagi pria maupun wanita,’’ terang Andreas Nugroho, branch manager salah satu sebuah mal di Kota Madiun, kemarin (20/11).

Menurut dia, lonjakan transaksi busana muslim dan peralatan salat terjadi sejak pekan lalu. Peningkatannya, kata Andreas, sekitar 30 persen. ‘’Kami prediksi peningkatan penjualan akan terus terjadi hingga mendekati lebaran haji nanti, dan puncaknya pada H-2,’’ katanya.

Untuk mengatisipasi lonjakan permintaan pada kedua jenis item barang tersebut, Andreas mengaku pihaknya telah menyediakan stok hingga dua kali lipat dibanding biasanya. ‘’Stok sudah ready,’’ tuturnya kepada koran ini.

Abdulah, seorang pelaku usaha pakaian, juga membenarkan terjadi lonjakan penjualan busana muslim dan perlengkapan salat. Menurutnya, yang banyak dicari adalah baju koko dan sarung. ‘’Dalam sehari, sepuluh sampai lima belas potong baju koko terjual,’’ ujarnya.

Padahal, kata dia, pada hari biasa penjualan baju jenis itu tergolong seret. Bahkan, dalam seminggu kadang hanya terjual satu potong baju koko. ‘’Kalau baju muslim untuk wanita yang paling laris kerudung,’’ ungkapnya.

Menurutnya, karena kondisi ini sifatnya musiman, ia mengaku tidak terkendala dengan stok. Pasalnya, persediaan sudah disiapkan dalam jumlah cukup beberapa waktu lalu. ‘’Stok memang saya perbanyak, kalau sisa kan bisa kita jual lagi pada hari-hari biasa sampai lebaran nanti,’’ tambahnya. (dra/isd)

Sabtu, 24 Oktober 2009

Harga Busana Batik Melonjak

MADIUN - Sejak dikukuhkan sebagai world heritage (warisan dunia) oleh Unesco, demam batik seakan melanda masyarakat. Permintaan konsumen pada produk asli Indonesia ini mendadak melonjak tajam. batik

Kondisi itu menyebabkan harga batik ikut melonjak. Bahkan, untuk jenis tertentu peningkatan harga mencapai 50 persen lebih dibandingkan sebelumnya.

‘’Meskipun harganya mahal, tetap saja banyak yang mencari,’’ kata Deni, pemilik salah satu gerai batik di Kota Madiun, kemarin (23/10).

Di gerai milik Deni, busana batik ditawarkan dengan harga bervariasi, mulai Rp 40 ribu hingga Rp 200 ribu. Bahkan, untuk bahan tertentu seperti sutra harganya mencapai di atas Rp 1 juta per potong.

Di sisi lain, tingginya permintaan busana batik, memicu produsen menciptakan desain dan model terbaru. ‘’Ini dilakukan agar konsumen punya banyak pilihan desain batik, sekaligus tentunya untuk meningkatkan penjualan,’’ ujar Deni.

Wahyuni, pengelola toko pakaian yang menjual batik di Jalan PB Sudirman, mengakui permintaan busana batik kini cukup tinggi. Peminatnya tidak lagi didominasi kalangan orang tua, tapi juga mulai bergeser ke anak-anak dan remaja.

Fenomena itu ditangkap jeli oleh Wahyuni, dengan menyediakan batik model terbaru. Yang banyak diminati saat ini, kata dia, pakaian batik remaja putri dengan model Oshin, kimono atau kelelawar. ’’Bidang lengannya lebar. Selain memang lagi mode, model ini diminati karena nyaman dipakai,’’ ungkapnya.

Ia menambahkan batik modis ini cocok untuk remaja yang identik dengan aktivitas tinggi. Karena, selain terkesan longgar, tak membuat pemakainya gerah. ‘’Cocok dipadukan dengan celana jean model pensil yang saat ini lagi digemari,’’ kata Wahyuni. (dra/isd)
 
Komunikasi Bisnis. Design by Wpthemedesigner. Converted To Blogger Template By Anshul Tested by Blogger Templates.